I. PENDAHULUAN

 

  1. A.   LATAR BELAKANG

Banyak yang mengatakan bahwa filsafat itu kesesatan, kebodohan, membahayakan bagi akidah-akidah agama. Filsuf itu dianggap orang yang ingkar agama, setan berbentuk manusia, dsb. sehingga dahulu banyak sekali buku filsafat yang dilarang untuk membacanya, bahkan tak sedikit pula buku-buku filsafat itu dibakar. Filsuf dikucilkan, bahkan dipenjarakan. Itu semua mereka lakukan karena mereka belum bisa mengerti dan memahami bagaimana sejatinya ajaran filsafat serta pemikiran para filsuf itu sendiri.

Namun sebaliknya, ada yang mengatakan bahwa filsafat mengantarkan manusia kepada kebenaran dan kebahagiaan. Jadi sama dengan agama, hanya melihatnya dari sisi yang berlainan.

Mana yang benar? Semua tergantung dari pemahaman kita terhadap ajaran filsafat itu sendiri.

Mempelajari filsafat memang tidak mudah. Perlu pemikiran yang matang dan berhati-hati dalam pemahamannya. Kalau tidak, maka kita akan tersesat oleh pemikiran kita sendiri. Memerlukan penalaran yang luar biasa dalam hal ini.

Maka dari itu, dalam makalah ini penulis akan memaparkan tentang konsep filsafat dari seorang tokoh Islam ternama yakni “Ibnu Bajjah” yang semoga akan lebih mudah dipelajari serta dipahami oleh pembaca, karena konsep filsafat beliau juga didasarkan pada para pendahulunya seperti Aristoteles dan Al-Ghozali.

Dalam makalah ini juga akan dipaparkan secara gamblang mengenai riwayat hidup beliau, karya-karya yang dihasilkan beliau semasa hidupnya, antara filosof dan filsafatnya serta ajaran-ajaran filsafatnya, yang diharapkan akan sedikit memberikan pencerahan kepada pembaca mengenai ajaran filsafat dan siapakah sebenarnya tokoh “Ibnu Bajjah”serta ajaran filsafatnya.

 

  1. B.   RUMUSAN MASALAH
    1. Bagaimanakah riwayat hidup Ibnu Bajjah ?
    2. Apa sajakah karya yang dihasilkan Ibnu Bajjah semasa hidupnya ?
    3. Bagaimanakah kaitan antara filosof dan filsafatnya ?
    4. Apa sajakah ajaran filsafatnya ?

 

  1. C.   TUJUAN PEMBAHASAN
    1. Untuk mengetahui riwayat hidup Ibnu Bajjah
    2. Untuk mengetahui karya-karya yang dihasilkan Ibnu Bajjah semasa hidupnya
    3. Untuk mengetahui kaitan antara filosof dan filsafatnya
    4. Untuk mengetahui ajaran-ajaran filsafatnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. KONSEP FILSAFAT IBNU BAJJAH

 

  1. A.  Riwayat Hidup Ibnu Bajjah

Ibnu Bajjah lahir di Saragossa pada abad 11 M atau abad V H. Nama aslinya adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Yahya, yamg terkenal dengan sebutan Ibnu Shaigh atau Ibnu Bajjah.[1] Dia berasal dari keluarga Al-Tujib, maka ia terkenal denagn sebutan Al-Tujib.

Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu Bajjah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Shina, Ibnu Gaberal, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averroes (Sudarsono, Filsafat Islam, 2004 : 75).

Ibu Bajjah berhasil mematangkan dirinya dengan pengetahuan di kota kelahirannya, Saragossa. Maka ketika pergi ke Granada, dia telah menjadi seorang sarjana bahasa dan sastra Arab serta menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan.

Para ahli sejarah memandangnya sebagai orang yang berpengetahuan luas dan mahir dalam berbagai ilmu. Tidak terkecuali Fath Ibnu Khaqan, yang menuduh Ibu Bajjah sebagai ahli bid’ah dan mengecamnya dengan pedas dalam karyanya Qola’id al-Iqyan, juga mengakui  keluasan pengetahuannya, karena menguasai sastra, tata bahasa dan filsafat kuno (Mustofa, Filsafat Islam, 2009:256). Oleh tokoh-tokoh sezamannya dia telah disejajarkan dengan al-Syaikh al-Rair Ibnu Shina.

Ibnu Bajjah tidak melulu menekuni ilmu dan falsafat, tetapi juga terlibat politik, khususnya sejak diangkat menjadi wazir di Saragossa oleh Gubernur Saragossa as-Sahrawi yang berada di kekuasaan Daulah Murabithun.[2] Tapi ketika Saragossa jatuh ke tangan Al-Fonso I, Raja Aragon pada tahun 512 H/1118

 M, Ibnu Bajjah pindah ke kota Seviolle lewat Valencia, dan di sana bekerja sebagai Tabib, kemudian dia pergi ke Granada.

Setibanya di Syatibah, Ibnu Bajjah dipenjarakan oleh Amir Abu Ishaq Ibrahim Ibnu Yusuf Ibnu Tasyifin. Sangat boleh jadi karena dituduh sebagai ahli bid’ah. Tapi menurut Renan, dia dibebaskan, barangkali atas anjuran muridnya sendiri, bapak filosof Spanyol termasyhur Ibn Rusyd.[3]

Berkat kemampuan dan pengetahuannya yang langka, setibanya di Fez, di Istana Gubernur Abu Yahya Ibnu Yusuf Ibn Tasyifin, Ibnu Bajjah diangkat sebagai pejabat tinggi dan memegang jabatan selama 20 tahun.

Di masa jabatannya, merupakan masa kesulitan dan kekacauan dalam sejarah Spanyol dan Afrika Barat-laut. Pelanggaran hukum dan kekacauan melanda seluruh negeri. Musuh-musuh Ibnu Bajjah sudah mencapnya sebagai ahli bid’ah, bahkan beberapa kali berusaha membunuhnya. Tapi semua usaha mereka gagal. Hingga pada akhirnya Ibnu Zuhr seorang dokter termasyhur pada masa itu berhasil membunuhnya dengan racun pada bulan Ramadhan tahun 533 H / 1138 M.[4] Beliau dimakamkan di Fez di samping makam Ibn Al-Arabi muda.

 

  1. B.   Karya-karyanya

Beberapa karya Ibnu Bajjah antara lain :

  1. Beberapa risalah dalam dalam ilmu logika yang sampai sekarang masih tersimpan di perpustakaan Escurial, Spanyol
  2. Risalah tentang jiwa
  3. Risalah Al-Ittisal, mengenai pertemuan manusia dengan akal faal
  4. Risalah Al-Wada’, berisi uraian tentang penggerak pertama bagi manusia dan tujuan sebenarnya bagi wujud manusia dan alam
  5. Beberapa risalah tentang ilmu falak dan ketabiban
  6. Risalah Tadbirul Mutawahhid
  7. Beberapa ulasan teerhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, Al- Farabi, dan Porphyrius.

Menurut Carra de Vaux, di perpustakaan Berlin ada 24 risalah manuskrip karangan Ibnu Bajjah. Di antara karangan-karangan itu yang paling penting ialah risalah Tadbir Al-Mutawhhid yang membicarakan usaha-usaha orang yang menjauhi segala macam keburukan-kaburukan masyarakat, yang disebut Mutawahhid, yang berarti “penyendiri”. Isi risalah tersebut cukup jelas sehingga memungkinkan kita dapat mempunyai gambaran tentang usaha si penyendiri tersebut untuk dapat bertemu dengan akal-akal dan menjadi salah satu unsur pokok bagi negeri idam-idamnya.[5] Menurut sebagian pendapat menyebutkan bahwa risalah Tadbir Al-Mutawahhid itu sudah tidak ada, akan tetapi Musa An-Narbumi telah menganalisis risalah tersebut.

 

  1. C.  Antara Filosof dan Filsafatnya

Filosof Barat yang pertama kali mempelajari  secara mendalam pemikiran Al-Farabi dan Aristoteles adalah Ibnu Bajjah. Karangan-karangan Ibnu Bajjah dapat menuntun Ibnu Rusyd untuk mengenal Al-Farabi dan Aristoteles.

Mengenai akal Ibnu Bajjah mengatakan bahwa akal sebagai daya berpikir adalah sumber semua pekerjaan manusia. Ahli-ahli filsafat umumnya menganggap bahwa akal serupa dengan jiwa. Roh ada 3 macam, yaitu roh akali untuk berpikir, roh jiwa untuk menggerakkan, dan roh tabiat untuk merasakan dan mengindera.[6]

Ibnu Bajjah menentang pandangan Al-Ghazali mengenai filsafat, akan tetapi banyak mengomentari filsafat Aristoteles. Ibnu Bajjah berhasil memberi corak baru filsafat Islam di Barat terutama mengenai teori ma’rifat dalam efitologi. Dalam hal ini pandangannya berbeda sama sekali dengan Al-Ghozali.

Menurut Al-Ghozali, ilham merupakan sumber pengetahuan yang paling penting dan paling dipercaya. Setelah datang Ibnu Bajjah, maka ia menolak teori tersebut dan menetapkan bahwa seseorang dapat mencapai puncak ma’rifat dan meleburkan diri pada akal–faal, jika ia telah dapat terlepaskan dari keburukan-keburukan masyarakat, dan menyendiri serta dapat memakai kekuatan pikirannya untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu sebesar mungkin, juga dapat memenangkan segi pikiran pada dirinya atas pikiran hewaninya.

Ibnu Bajjah menentang  pikiran Al-Ghozali yang menetapkan bahwa akal pikiran itu lemah dan tidak dapat dipercaya. Semua pengetahuan manusia sia-sia belaka, sebab itu dapat mengantarkan manusia kepada suatu kebenaran. Menurut Al-Ghozali beribadah (tasawuf) merupakan cara yang paling tepat untuk mencapai yang benar (ma’rifat).[7]

Dalam risalah Al-Wada’ Ibnu Bajjah mengatakan bahwa Al-Ghozali  dalam bukunya Al-Munqidzu min ad-Dlalal telah menempuh jalan khayali yang remeh, dan dengan demikian ia telah sesat dan menyesatkan orang-orang yang memasuki fatamorgana dan yang mengira bahwa pintu tasawuf  telah membuka dunia pikiran dan selanjutnya memperlihatkan kebahagiaan-kebahagiaan ketika melihat alam langit.[8]

Bagi Ibnu Bajjah, tiap-tiap orang mampu menempuh jalan tersebut, dan tidak ada yang menghambatnya kecuali peremehannya terhadap dirinya sendiri dan kedudukannya terhadap keburukan-keburukan masyarakat manusia keseluruhannya bisa mencapai kesempurnaan.

Menurut Ibnu Bajjah, hanya “penyendiri” saja yang dapat mencapai tingkat akal mustafad, yaitu akal yang sudah menerima pengetahuan dari akal-faal. Dari segi ini, maka “penyendiri”nya Ibnu Bajjah mirip sekali dengan “orang bijaksananya”nya Al-Farabi yang dapat berhubungan dengan akal-faal.[9] Ibnu Bajjah tidak banyak meninggalkan karangan di bidang filsafat alam tetapi pemikiran-pemikirannya banyak mempengaruhi filosof Islam berikutnya, yaitu Ibnu Rusyd. Pendapat Ibnu Bajjah sejalan dengan Ibnu Thufail mengenai dominasi akal manusia yang tampak jelas dalam teori etikanya.

 

  1. D.  Ajaran Filsafatnya

Ibnu Bajjah adalah ahli yang menyadarkan pada teori dan praktik ilmu-ilmu matematika, astronomi, musik, mahir ilmu pengobatan dan studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam dan metafisika, sebagaimana yang dikatakan De Boer dalam The History of  Philosophi in Islam, bahwa dia benar-benar sesuai dengan Al-Farabi dalam tulisan-tulisannya logika dan secara umum setuju dengannya, bahkan dengan doktrin-doktrin fisika dan metafisikanya.

Ibnu Bajjah menyandarkan filsafat dan logikanya pada karya-karya Al-Farabi, dan dia telah memberikan sejumlah besar tambahan dalam karya-karya itu. Dan dia telah menggunakan metode penelitian filsafat yang benar-benar lain. Tidak seperti Al-Farabi, dia berurusan dengan segala masalah hanya berdasarkan nalar semata. Dia mengagumi filsafat Aristoteles, yang di atasnya dia membangun sistemnya sendiri. Tapi, dia berkata untuk memahami lebih dulu filsafatnya secara benar. Itulah sebabnya Ibnu Bajjah menulis uraian-uraian sendiri atas karya-karyanya Aristoteles. Uraian-uraian ini merupakan bukti yang jelas bahwa dia  mempelajari teks-teks karya Aristoteles dengan sangat teliti. Seperti juga dalam filsafat Aristoteles, Ibnu Bajjah mendasarkan metafisika dan psikologinya pada fisika, dan itulah sebabnya mengapa tulisan-tulisannya penuh dengan wacana-wacana mengenai fisika.

 

a)      Materi dan bentuk

Pendapat De Boer: “Ibnu Bajjah memulai deasumsi bahwa materi itu tidak bisa bereksistensi tanpa adanya bentuk sedangkan bentuk bisa bereksistensi dengan sendirinya, tanpa harus ada materi”. Tapi pernyataan ini salah. Menurut Ibnu Bajjah materi dapat bereksistensi harus ada bentuk. Dia berargumen jika materi berbentuk, maka ia akan berbagi menjadi materi dan bentuk dan begitu seterusnya. Ibnu Bajjah menyatakan bahwa bentuk pertama merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.[10]

Aristoteles membuat definisi materi sebagai sesuatu yang menerima bentuk dan yang alam satu hal bersifat universal. Materinya dalam hal ini berbeda dari materi Plato yang meskipun dia setuju dengan definisi di atas, berpendapat bahwa bentuk itu sendiri nyata dan tidak membutuhkan sesuatupun untuk bisa bereksistensi. Tujuan Aristoteles bukan hanya untuk menyatakan bahwa materi dan bentuk itu saling bergantung, tapi juga untuk membedakan antara bentuk khusus sebuah spesies dan bentuk khusus spesies lain. Bentuk sebuah tanaman itu berbeda, misalnya, dengan bentuk seekor binatang, dan bentuk sebuah benda mati berbeda dengan bentuk sebuah tanaman, dan seterusnya.

Dalam tulisan-tulisan Ibnu Bajjah, kata bentuk dipakai untuk mencakup berbagai arti: jiwa, sosok, kekuatan, makna, konsep. Menurut pendapatnya, bentuk suatu tubuh memiliki tiga tingkatan :

1)                Bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual

2)                Bentuk kejiwaan khusus

3)                Bentuk fisik.

 

Ibnu Bajjah membagi bentuk kejiwaan sebagai berikut (Mustofa, Filsafat Islam, 2009 : 260):

  1. Bentuk-bentuk tubuh sirkular hanya memiliki hubungan sirkular dengan materi, sehingga bentuk-bentuk itu bisa membuat kejelasan materi dan menjadi sempurna
  2. Kejelasan materi yang bereksistensi dalam materi
  3. Bentuk-bentuk yang bereksistensi dalam indera-indera jiwa-akal sehat, indera khayali, ingatan, dan sebagainya, dan yang berada di antara bentuk-bentuk kejiwaan dan kejelasan materi.

 

Bentuk-bentuk itu yang berkaitan dengan aktif oleh Ibnu Bajjah dinamakan bentuk-bentuk kejiwaan khusus. Pembedaan ini dilakukan karena bentuk kejiwaan umum hanya memiliki satu hubungan dan hubungan itu ialah dengan yang menerima, sedangkan bentuk-bentuk kejiwaan khusus memiliki dua hubungan umum dengan yang terasa. Seorang manusia misalnya, ingat akan bentuk Taj Mahal kalau benda itu berada di depan mata, bentuk ini, selain memiliki hubungan khusus seperti yang tersebut di atas, juga hubungan dengan wujud umum yang terasa, sedang banyak orang melihat Taj Mahal.

 

b)      Etika

Tindakan manusia menurut Ibnu Bajjah dibagi menjadi dua yakni: tindakan hewani dan tindakan manusiawi.

Pertama, tindakan hewani, timbul dikarenakan adanya motif naluri atau hal-hal lain yang berhubungan dengannya, baik dekat maupun jauh.[11] Misalnya seorang yang terantuk dengan batu, kemudian luka-luka, lalu ia melemparkan batu itu. Kalau ia melemparkannya karena telah melukainya, maka ini adalah perbuatan hewani yang didorong oleh naluri hewani yang telah mendiktekan kepadanya untuk memusnahkan setiap perkara yang mengganggunya.

Kedua, tindakan manusiawi, timbul dikarenakan adanya pemikiran yang lurus dan keamanan yang bersih dan tinggi, dan bagian ini disebut “perbuatan-perbuatan manusia”.[12] Misalnya seperti contoh sebelumnya, seseorang yang terantuk batu, kemudian luka-luka, lalu ia melemparkannya agar batu itu tidak mengganggu orang lain, bukan karena kepentingan dirinya, atau marahnya tidak ada sangkut paut dengan pelemparan tersebut, maka perbuatan itu adalah pekerjaan kemanusiaan .

Pangkal perbedaan antara kedua bagian tersebut bagi Ibnu Bajjah bukan perbuatan itu sendiri melainkan motifnya.[13]

Setiap orang yang hendak menundukkan segi hewani pada dirinya, tidak lain hanya harus memulai dengan melaksanakan segi kemanusiaannya. Dalam keadaan demikianlah segi hewani pada dirinya tunduk kepada ketinggian segi kemanusiaan, dan seseorang menjadi manusia tanpa ada kekurangannya, sebab kekurangan itu timbul karena ketundukannya pada naluri.[14]

Pikiran Ibnu Bajjah tersebut nampaknya telah mempengaruhi Kant dengan teori “wajibnya”-nya (imperatif), meskipun Kant telah menambahkan pikiran-pikiran baru yang menyebabkan  ia maju lebih jauh dari Ibnu Bajjah.[15]

 

c)      Akal dan Pengetahuan

Menurut Ibnu Bajjah, pengetahuan yang benar dapat diperoleh melalui akal dan akal ini merupakan satu-satunya sarana yang dapat mewujudkan untuk mencapai kemakmuran dan membangun kepribadiannya.

Ibnu Bajjah juga menandaskan bahwa Tuhan memanifestasikan pengetahuan dan perbuatan kepada makhluk-makhluk-Nya. Setiap manusia menerima ini semua sesuai dengan tingkat kesempurnaan eksistensi masing-masing, akal menerima dari-Nya suatu pengetahuan sesuai dengan kedudukannya dan lingkungan menerima dari-Nya sesosok dan bentuk fisik sesuai dengan tingkat dan kedudukan mereka. Melalui akallah manusia mengenal ilmu-ilmu yang disingkapkan kepadanya oleh Tuhan, hal-hal yang dapat dipahami, peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi di masa lalu. Inilah pengetahuan ghaib yang diberikan Tuhan kepada hamba-hamba pilihan-Nya dengan melalui malaikat-malaikat-Nya.

Wawasan yang paling tinggi adalah akal yang berwawasan ruh, dimana ia merupakan rahmat dari Tuhan. Wawasan yang sempurna dimiliki oleh para Nabi. Dan pengetahuan yang paling tinggi adalah mengenai Tuhan sendiri dan para malaikat-Nya, baru kemudian pengetahuan tentang kejadian yang akan terjadi di alam ini. Selain para Nabi yang memperoleh pengetahuan semacam itu, juga orang saleh yang meliputi para Wali Tuhan dan para sahabat Nabi. Kemudian sejumlah orang yang dikaruniai wawasan itu oleh Tuhan.

Menurut Inu Bajjah akal memiliki dua fungsi yaitu memberikan imaji obyek yang akan diciptakan kepada unsur imajinasi dan memiliki obyek yang dibuat di luar ruh dengan menggerakkan organ-organ tubuh.

Ia mempercayai adanya kemajemukan akal dan mengacu kepada akal pertama dan kedua. Akal manusia yang paling jauh adalah akal pertama, dan sebagian akal berasal dari akal pertama itu. Sebagian lain berasal dari akal-akal lain. Hubungan antara yang diperoleh dan tempat asal akal (akal pertama) yang diperoleh itu sama dengan hubungan cahaya matahari yang ada di dalam rumah dengan cahaya yang ada di halaman rumah. Sebab cahaya di halaman rumah disampaikan oleh partikel-partikel secara langsung berbeda dengan cahaya yang ada di dalam rumah.

Akal manusia setapak demi setapak mendekati akal pertama dengan :

  • Meraih pengetahuan yang didasarkan pada bukti, yang dalam hal ini akal paling tinggi direalisasikan sebagai bentuk.
  • Memperoleh pengetahuan tanpa mempelajarinya atau berusaha meraihnya.

 

Pendekatan melalui cara kedua ini adalah suatu metode yang digunakan oleh orang-orang sufi khususnya Al-Ghozali, karena metode ini dapat mencapai suatu pengetahuan tentang Tuhan.[16]

 

d)      Jiwa

Menurut Ibnu Bajjah, anggapan yang menyatakan bahwa “materi itu tidak bisa bereksistensi tanpa adanya bentuk, sedangkan bebtuk bisa bereksistensi dengan sendiri, tanpa harus ada materi”. Anggapan ini adalah keliru. Karena materi materi dapat bereksistensi tanpa harus ada bentuk. Ia berpendapat jika materi berbentuk, maka ia akan terbagi menjadi materi dan bentuk pertama merupakan suatu bentuk abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk.

Jiwa dianggap sebagai pernyataan pertama dalam tubuh alamiah dan teratur yang bersifat nutritif (mengandung zat-zat untuk badan) sensitif (kepekaan) dan imajinatif (rasional).

Nutrisi mempunyai dua tujuan yaitu pertumbuhan dan reproduksi. Hal ini disebabkan karena setiap makhluk yang fana harus malaksanakan suatu fungsi khusus demi kedudukannya di alam raya ini. Unsur ini (nutrisi) tidak hanya menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menjaga tubuh, melainkan juga menyediakan suatu kelebihan yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembanagan tubuh. Apabila pertumbuhan itu tercapai, maka kelebihan iitu digunakan untuk reproduksi pada tubuh yang bersifat reproduktif. Namun unsur ini berbeda dengan unsur nutritif yang bertindak berdasarkan makanan yang membuatnya menjadi bagian dari tubuh. Tapi unsur reproduktif adalah akal aktual yang mengubah suatu jenis potensial menjadi tubuh suatu jenis aktual. Tubuh-tubuh itu yang tidak produktif bergantung kapada pertumbuhan spontan untuk melestarikan jenis mereka.

Unsur reproduksi merupakan akhir unsur pertumbuhan dan musnah hanya pada usia lanjut setelah semuanya lenyap dan yang tinggal hanyalah unsur nutritif.

Persepsi psikis ada dua yaitu sensasi dan imajinasi, sensasi bersifat mendahului imajinasi, yang untuknya ia mensuplai materi itu. Pendeknya sensasi itu merupakan suatu kepastian tubuh yang diaktifkan oleh yang terasa. Karena gerak itu banyak jumlahnya, maka sensasipun banyak jumlahnya dan karena yang terasa itu bisa bersifat umum atau khusus, maka sensasipun bisa bersifat umum atau khusus.

Panca indera adalah merupakan lima unsur dari suatu indera tunggal yaitu akal sehat, dan akal sebagai realisasi penuh tubuh secara keseluruhan dan karena disebut sebagai jiwa (soul). Unsur ini juga mensuplai materi untuk unsur  imajinasi yang terorganisasi, dan oleh karena itu unsur ini didahului oleh sensasi yang mensuplai materi kepadanya. Sebab itu sensasi dan imajinasi telah dianggap sebagai dua jenis persepsi jiwa. Tapi perbedaan keduanya sangat jelas sepanjang sensasi bersifat khusus dan imajinasi bersifat umum. Unsur imajinatif berpuncak pada unsur penalaran yang melewatinya orang bisa mengungkapkan dirinya kepada orang lain dan sekaligus mencapai serta membagi pengetahuan.

Jiwa yang berhasrat itu terdiri atas tiga unsur yaitu :

  • Ø Hasrat imajinatif yang melaluinya anak keturunan dibesarkan individu-individu dibawa ke tempat-tempat tinggal mereka dan memiliki rasa sayang, cinta dan yang semacamnya.
  • Ø Hasrat menengah, yang melaluinya timbul nafsu akan makanan, perumahan, kesenian, dan ilmu.
  • Ø Hasrat berbicara, yang melaluinya timbul pengajaran, ini merupakan hasrat khusus yang dimiliki oleh manusia, tidak seperti kedua hasrat  sebelumnya.

 

 

Apabila binatang memiliki hasrat menengah yang membuatnya cenderung mencari makan. Sebagian binatang tidak memiliki keinginan imajinatif. Keinginan hasrat menengah itu pada dasarnya mendahului hasrat imajinatif. Suatu hal yang jelas bahwa tiap manusia memiliki dua unsur yang berhasrat dan yang rasional dan keduanya mendahului yang lainnya.

Jiwa yang berhasrat menghendaki suatu obyek yang kekal. Kehendak ini disebut kesenangan dan tiadanya kehendak merupakan kejemuan atau kesakitan. Kehendak bukan merupakan suatu yang dimiliki oleh manusia. Siapapun yang bertindak sesuatu atas dasar kehendak dianggap telah bertindak atas dasar kebinatangan. Disini berarti ia melakukan bukan atas dasar gagasan-gagasan.

Manusia dan binatang , bentuk imajiner menengah dan bentuk imajinernya berbeda, keduanya tidak kekal. Sehingga jiwa yang berhasrat dalam mencapai kekekalan hanya sebagai gambaran saja. Ia beranggapan untuk mencapai kekekalan harus melalui kesempurnaan yaitu kekuasaan. Maka timbullah penguasa lalim, karena dengan keterbatasannya itu. Dengan begitu mereka menjadi sedih dan menyesal. Tetapi penderitaan ini tidak dialami oleh binatang, sebab ia tidak memiliki nalar dan jiwa berhasratnya tidak berambisi dan tidak memiliki kenangan di masa lalunya.

Unsur imajinatif manusia merupakan unsur yang melaluinya manusia menerima kesan-kesan dari benda-benda yang terasa dan menempatkan kesan-kesan itu ke dalam imajinasinya, setelah kesan-kesan itu hilang.[17] Unsur itu juga menyusun obyek-obyek imajinasi yang tak pernah terasa sebelumnya, yang terkadang juga menyusun yang bukan tunggal, tetapi yang keseluruhan. Pada taraf akhir imajinasi itu muncullah akal dan unsur rasionalpun mulai berfungsi, sebagai dalam perbedaan antara manusia dan binatang yang hanya mencari makan dan memliki organ-organ rasa. Orang dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang madharat. Juga dalam dirinya didapati hal-hal yang salah. Obyek-obyek inilah yang dalam jiwa (soul) disebut logis.

Istilah logis berlaku pada obyek-obyek pengetahuan yang secara potensial dapat diterima dan yang benar-benar bereksistensi dan diungkapkan lewat kata-kata. Obyek-obyek pengetahuan ini jika dikaitkan dengan obyek-obyrek yang mereka maksudkan membentuk pengetahuan mereka karena obyek-obyek pengetahuan itu dikenal lewat dan diakui mereka.

Apabila obyek-obyek itu dipandang sebagaimana yang terserap oleh unsur imajinatif dan diterapkan pada isi yang berasal dari mereka, maka mereka disebut yang dapat mengerti tapi bila diserap oleh unsur-unsur rasional yang menyempurnakan mereka dan membawa mereka dari potensialitas kepada aktualitas, maka mereka disebut pikiran atau akal. Ada berbagai tingkat pengetahuan dan yang dominan adalah pengetahuan mengenai obyek tertentu. Ini terutama maujud melalui pencapaian pengertian yang tertentu itu di dalam unsur imajinatif, secara umum, karena ia tidak bisa dibayangkan secara khusus. Bahkan kualitas apapun dari obyek itu tidak dapat dilukiskan. Ia dibedakan lewat cara umum tanpa mengetahui apapun dari kualitas-kualitasnya. Inilah pengetahuan paling lemah suatu obyek dan merupakan cermin dari binatang. Kalau keadaan yang tertentu itu bisa diterima dalam unsur imajinatif, maka manusia mencapai yang tertentu ini dengan wataknya yang terinci yang membantunya sebagai sesuatu yang sama pada waktu-waktu yang berbeda.

 

e)      Filsafat Politik

Ibnu Bajjah menulis risalah kecil mengenai pemerintahan Dewan Negara dan pemerintahan Negara-Kota, dalam Tadbir al-Mutawahhid (rezim satu orang). Sebagaimana dijelaskan dalam buku ini, Ibnu Bajjah sangat menyetujui politik Al-Farabi. Misalnya, dia menerima pendapat Al-Farabi yang membagi Negara menjadi Negara yang sempurna dan tidak sempurna. Dia juga dengan Al-Farabi yang beranggapan bahwa individu yang berbeda dari sebuah bangsa memiliki watak yang berbeda pula, sebagian dari mereka lebih suka memerintah dan sebagian yang lain lebih suka diperintah.

Dalam Risalah al-Wada’, Ibnu Bajjah memberikan dua fungsi alternatif Negara :

  1. Untuk menilai perbuatan rakyat guna membimbing mereka mencapai tujuan yang mereka inginkan. Fungsi ini paling baik dilaksanakan di dalam Negara ideal oleh pengusaha yang berdaulat.
  2. Fungsi alternatif ini yaitu merancang cara-cara mencapai tujuan-tujuan tertentu, persis sebagaimana seorang penunggang yang mahir.

 

Ini merupakan pelaksana-pelaksana Negara yang ideal. Dalam hal sang penguasa disebut rais (pemimpin). Sang pemimpin menerapkan di Negara itu suatu sistem tradisional untuk menentukan seluruh tindakan rakyat.

Dalam sistem Al-Farabi dan Ibnu Bajjah, konstitusi harus disusun oleh Kepala Negara, yang telah disamakan oleh Al-Farabi dengan seorang Nabi atau Imam. Ibnu Bajjah tidak menyebutkan identitas ini secara terperinci, tapi secara tidak langsung dia setuju dengan pendapat Al-Farabi ketika dia menyatakan bahwa manusia takkan mencapai kesempurnaan kecuali lewat yang dibawa oleh para Rasul dari Tuhan Yang Maha Tinggi (yaitu hukum Tuhan atau syari’ah). Mereka yang mengikuti petunjuk Tuhan takkan sesat. Oleh karena itu, adalah terlalu lancang bila mengatakan bahwa dia (Ibnu Bajjah) mengabaikan relevansi politis hukum Tuhan (syari’ah) dan nilai edukatifnya bagi manusia sebagai warga Negara.

 

f)       Tasawuf

Renan berpendapat bahwa Ibnu Bajjah memiliki kecenderungan kepada tasawuf, tapi tentu salah ketika menganggap bahwa Ibnu Bajjah menyerang Al-Ghozali karena ia menandaskan intuisi dan tasawuf. Sesungguhnya, Ibnu Bajjah mengagumi Al-Ghozali dan menyatakan bahwa metode Al-Ghozali memampukan orang memperoleh tentang Tuhan, dan bahwa metode ini didasarkan pada ajaran-ajaran Nabi suci.

Ibnu Bajjah menjunjung tinggi para Wali Allah (auliya’ Allah) dan menempatkan mereka di bawah para Nabi. Menurutnya, sebagian orang dikuasai oleh keinginan jasmaniyah belaka, mereka berada di tingkat paling bawah, dan sebagian lagi dikuasai oleh spiritualitas kelompok ini sangat langka, dan termasuk dalam kelompok ini Uwais Al-Qarni dan Ibrahim ibn Adham (Mustofa, Filsafat Islam, 2009 : 270).

Ibnu Bajjah hampir menyatakan dirinya sebagai seorang fatalis atas Tuhan dan aturan-aturan-Nya. Dalam satu risalahnya, dia menyatakan bahwa seandainya kita berpaling kepada ketetapan Tuhan dan kekuasaan-Nya maka kita benar-benar memperoleh kadamaian dan kebahagiaan. Segala yang ada berada dalam pengetahuan-Nya dan hanya Dia yang mampu mendatangkan kebaikan kepada mereka. Karena Dia mengetahui segala sesuatu secara esensial, maka Dia memberikan perintah-perintah kepada suatu perantara untuk menemukan suatu bentuk seperti yang ada dalam pengetahuan-Nya dan kepada penerima bentuk-bentuk untuk menerima bentuk itu. Inilah yang terjadi pada semua yang ada, bahkan pada materi yang fana serta akal manusia. Untuk menunjang pandangan-Nya bahwa Tuhan adalah pencipta utama segala tindakan, Ibnu Bajjah mengacu pada pandangan Al-Ghozali yang dikatakannya pada bagian akhir dari karyanya Misykat al Anwar, bahwa prinsip pertama itu menciptakan agen-agaen dan obyek-obyek tindakan, dan dia selanjutnya mengambil penunjang lain untuk pandangannya ini dari pengamatan Al-Farabi dalam ‘Ujun Al-Masa’il, bahwa semuanya berkaitan dengan prinsip pertama sebab Yang Pertama itu merupakan pencipta mereka.[18] Ibnu Bajjah juga menyatakan bahwa Aristoteles mengatakan dalam bukunya Physics bahwa agen Pertama adalah agen sebenarnya, dan agen yang dekat tidak bertindak kecuali lewat Yang Pertama membuat aksi yang dekat dan obyek tindakan. Yang dekat itu dikenal  sebagai agen oleh sebagian orang hanya dalam masalah-masalah material. Raja yang adil, misalnya pantas menerima  semua adil, meskipun dia jatuh tingkatannya dari dia yang ada di bawahnya dalam rangkaian agen itu. Siapapun yang menganggap bahwa suatu tindakan berasal dari agen yang dekat sama saja dengan seekor anjing yang menggigit sebuah batu yang membenturnya. Tapi penganggapan bahwa tindakan itu berasal dari agen yang dekat adalah mustahil dalam masalah-masalah yang tidak bersangkut paut dengan materi-materi fisik. Akal yang aktif yang mengelilingi benda-benda angkasa itu merupakan agen dekat dari hal-hal yang tak kekal. Tapi dia yang menciptakan akal yang aktif dan benda-benda angkasa itulah agen kekal yang sejati.

Tuhan menyebabkan keberadaan suatu benda berlanjut tanpa akhir setelah ketakberadaan fisiknya. Bila suatu yang ada mencapai kesempurnaan, maka dia tidak akan ada mencapai kesempurnaan, maka dia tidak akan ada lagi dalam zaman, tapi ada selamanya dalam keterus-menerusan masa (dahr). Ibnu Bajjah disini mengingatkan kita akan salah satu sabda Nabi suci: “Janganlah menyalahgunakan dahr karena dahr itu dari Allah”, dengan penafsiran begitu, perkataan itu mengandung makna bahwa akal manusia itu kekal. Untuk menunjang penafsiran kata dahr ini, Ibnu Bajjah menyebutkan para pendahulunya seperti Al-Farabi dan Al-Ghozali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III. PENUTUP

 

KESIMPULAN

Ibnu Bajjah lahir Saragossa pada abad 11 M atau abad V H. Nama asli beliau adalah Abu Bakar Muhammad Ibnu Yahya , yang terkenal dengan sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu Bajjah. Di dunia Barat beliau terkenal dengan sebutan “Avempace”. Beliau berasal dari keluarga Al Tujib, oleh sebab itu beliau terkenal dengan sebutan Al Tujibi.

Beliau wafat pada bulan Ramadhan tahun 533 H./ 1138 M akibat dibunuh oleh seorang dokter yang iri terhadap kecerdasan, ilmu, dan ketenarannya. Beliau dimakamkan Fez, di samping makam Ibn al-Arabi muda.

 

Karya-karya yang banyak dihasilkan beliau semasa hidupnya antara lain :

  1. Beberapa risalah dalam dalam ilmu logika yang sampai sekarang masih tersimpan di perpustakaan Escurial, Spanyol
  2. Risalah tentang jiwa
  3. Risalah Al-Ittisal
  4. Risalah Al-Wada’
  5. Beberapa risalah tentang ilmu falak dan ketabiban
  6. Risalah Tadbirul Mutawahhid
  7. Beberapa ulasan teerhadap buku-buku filsafat, antara lain dari Aristoteles, Al-Farabi, dan Porphyrius.

 

Ibnu Bajjah  memberi corak baru terhadap filsafat Islam Barat dalam teori ma’rifat yang berbeda sekali dengan corak yang diberikan oleh Al-Ghozali di dunia Islam Timur. Beliau banyak mengomentari filsafat Al-Ghozali yang dalam segi pemikirannya berlawanan sekali dengan pemikiran beliau.

 

 

Ajaran-ajaran filsafat beliau antara lain mengenai :

  1. Materi dan bentuk
  2. Etika
  3. Akal dan pengetahuan
  4. Jiwa
  5. Filsafat politik, dan
  6. Tasawuf

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SARAN

Setelah penulis menyimpulkan makalah di atas, maka penulis menyarankan agar kita  lebih mecari tahu tentang sejarah  perjalanan hidup Ibnu Bajjah, mulai dari riwayat hidup beliau, karya-karya yang dihasilkan beliau semasa hidupnya, hingga konsep filsafatnya, agar pengetahuan kita terhadap filsafat bertambah, terutama pengetahuan tmengenai Ibnu Bajjah itu sendiri.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya, kiranya kritik dan saran yang membangun sangat penulis butuhkan untuk kesempurnaan makalah ini ke dapannya.

 

 

 

~   ~   ~   ~  @@   ~   ~   ~   ~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Drajat, Amroeni. 2006. Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu. Medan : Erlangga

 

Mustofa. 2009. Filsafat Islam. Bandung : CV Pustaka Setia

 

Nizar, Syamsul, 2002. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta Selatan : Ciputat

 

Poerwantana, dkk. 1987. Seluk Beluk Filsafat Islam. Bandung : PT Remaja

            Rosdakarya

 

Sudarsono. 2004. Filsafat Islam. Jakarta : PT Rineka Cipta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Drs. Sudarsono, S.H ; Filsafat Islam ; hal : 75.

[2] Amroeni Drajat ; Filsafat Islam ; hal : 63.

[3] Mustofa, H.A ; Filsafat Islam ; hal : 256.

[4] Ibid, hal : 256

[5] Drs. Sudarsono, S.H; hal : 76.

[6] Drs. Poerwantana, dkk ; Seluk Beluk Filsafat Islam ; hal : 187.

[7] Drs. Sudarsono, S.H; hal : 77

[8] Ibid, hal : 77.

[9] Ibid, hal : 78.

[10] Mustofa, H.A ; hal : 259.

[11] Ibid, hal : 260.

[12] Drs. Poerwantana ; hal : 190.

[13] Drs. Sudarsono, S. H ; hal : 79.

[14] Drs. Poerwantana ; hal 190.

[15] Ibid, hal : 190.

[16] Mustofa, H. A ; hal : 264

[17] Ibid, hal : 267.

[18] Ibid, hal : 270.