1. I.     PENDAHULUAN

 

  1. A.       Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yakni tidak dapat hidup sendiri dan selalu  membutuhkan orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Terutama dalam hal muamalah, seperti jual beli, pinjam meminjam, sewa menyewa hingga urusan utang piutang maupun usaha- usaha yang lain, baik dalam urusan diri sendiri maupun untuk kemaslahatan umum. Namun sering kali dalam kehidupan sehari-hari banyak kita temui kecurangan-kecurangan dalam urusan muamalah ini, seperti riba yang sangat meresahkan dan merugikan masyarakat. Untuk menjawab segala problema tersebut, agama memberikan peraturan dan pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kita yang telah diatur sedemikian rupa dan termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits, dan tentunya untuk kita pelajari dengan sebaik-baiknya pula agar hubungan antar manusia berjalan dengan lancar dan teratur.

Jual beli adalah kegiatan tukar menukar barang dengan cara tertentu yang setiap hari pasti dilakukan namun kadang kala kita tidak mengetahui  apakah caranya sudah memenuhi syara’ ataukah belum. Begitu pula dengan utang piutang yang sering kali tidak dapat kita hindari karena sangat kental dengan kehidupan manusia. Kita perlu mengetahui bagaimana cara utang piutang menurut syariat. Kegiatan jual beli dan utang piutang ini juga sering dikait-kaitkan dengan yang namanya riba. Riba menurut syariat hukumnya adalah haram karena tidak menunbuhkan manfaat tetapi menimbulkan madharat.

Oleh karena itu, dalam makalah ini, sengaja kami bahas mengenai jual beli, utang piutang dan riba karena ketiganya sangat kental dengan kehidupan masyarakat. Disini pula akan banyak dibahas mulai  tata cara jual beli dan utang piutang yang benar sampai hal-hal yang diharamkan atau dilarang. Begitu pula dengan riba juga akan dibahas mulai dari hukumnya,sampai macam-macam bentuk riba, untuk mempermudah praktek muamalah kita dalam kehidupan sehari-hari dan supaya kita tidak mudah untuk terjerat dalam lingkaran riba yang sangat meresahkan dan merugikan masyarakat.

 

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dibahas antara lain:

  1. Apa pengertian, hukum,rukun dan syarat jual beli?
  2. Apa saja jual beli yang dilarang?
  3. Apa saja hikmah yang terkandung dalam jual beli?
  4. Apa hukum khiyar dalam jual beli, hukum, macam serta hikmah khiyar?
  5. Apa pengertian utang piutang, hukum, dan rukun serta hukum  menambah bayaran piutang?
    1. Apa pengertian riba, hukum serta macam riba?

 

  1. C.       Tujuan Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan pembahasan yang akan dicapai dalam makalah ini antara lain:

  1. Untuk mengetahui pengertian, hukum,rukun dan syarat jual beli
  2. Untuk mengetahui jual beli yang dilarang
  3. Untuk mengetahui hikmah yang terkandung dalam jual beli
  4. Untuk mengetahui hukum khiyar dalam jual beli, hukum, macam serta hikmah khiyar
  5. Untuk mengetahui pengertian utang piutang, hukum, dan rukun serta hukum menambah bayaran piutang
  6. Untuk mengetahui pengertian riba, hukum serta macam riba

 

 

  1. II.                JUAL BELI, HUTANG PIUTANG DAN RIBA

 

  1. A.   JUAL BELI
    1. 1.   Pengertian Jual Beli

Jual beli menurut bahasa disebut البيع, secara bahasa berarti اعطاءشيءفىمقابلةشيء (memberikan sesuatu untuk ditukar dengan sesuatu). Adapun menurut istilah syara’ adalah:

مقابلة مال بما ل قابلين للتصرف بايجاب وقبول على الوجه المأذ ون فيه

“Menukar suatu barang dengan barang (alat tukar yang syah) dengan  ijab qabul dan berdasarkan suka sama suka.”

 

Di dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa jual beli harus dilakukan berdasarkan suka sama suka.

…لاتأكلوااموالكم بينكم با لباطل الا ان تكون تجارة ان تكون تجارة ان تراض منكم…

Artinya: “…Janganlah kamu makan harta yang ada di antara kamu dengan jalan batal, melainkan dengan jalan jual beli suka sama suka….”(QS. An Nisa’: 29)

Menurut Sayyid Sâbiq, jual-beli adalah pertukaran harta atas dasar saling rela, atau memindahkan hak milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa jual beli menurut istilah adalah tukar menukar sesuatu barang dengan barang lain atas dasar suka sama suka dengan syarat dan rukun tertentu.

 

 

 

 

  1. 2.   Hukum Jual Beli

Jual beli hukum asalnya jâiz atau mubah/boleh (halal) berdasarkan dalil dari al-Quran, hadis dan ijma’ para ulama. 

…لاتأكلوااموالكم بينكم با لباطل الا ان تكون تجارة ان تكون تجارة ان تراض منكم…

Artinya: “….janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu….. “ (QS. An Nisa’29)

وأحل الله البيع وحرم الربا

Artinya: “Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”

 

  1. 3.   Rukun dan Syarat Jual Beli
    1. a.  Penjual, syaratnya:
  • Ø Baligh (dewasa)
  • Ø Berakal sehat
  • Ø Kehendak sendiri, dilakukan atas dasar suka sama suka

 

  1. b.  Pembeli, syaratnya:
  • Ø Baligh (dewasa)
  • Ø Berakal sehat
  • Ø Kehendak sendiri, dilakukan atas suka sama suka

 

  1. c.   Barang yang diperjual belikan, syaratnya:
  • Ø Suci
  • Ø Bermanfaat
  • Ø Milik sendiri (diberi kuasa untuk menjual)
  • Ø Jelas dan dapat diketahui kedua belah pihak
  • Ø Dapat dikuasai oleh penjual atau pembeli
  1. d.  Alat tukar, syaratnya:
  • Ø Berupa alat tukar yang syah dan masih berlaku
  • Ø Tidak najis/haram
  • Ø Diperoleh dengan jalan halal

 

  1. e.   Sighat ijab qobul/serah terima, syaratnya:
  • Ø Keadaan ijab qobul berhubung
  • Ø Maksud ijab qobul dapat diketahui keduanya
  • Ø Dengan kerelaan hati

 

  1. 4.   Jual Beli Yang Dilarang
    1. a.  Terlarang karena kurang syarat atau rukun
  • Ø Jual beli system ijon (belum jelas barangnya)

Dasarnya:

عن ابن عمر نهى النبى ص م : عن بيع الثما رحتى يبد وصلا حيا. متفق عليه

Artinya: “dari Ibnu Umar ra. Nabi saw melarang jual beli buah-buahan sehingga nyata baiknya buah itu”. (Muttafaq ‘alaih)

 

  • Ø Jual beli anak binatang ternak yang masih di dalam kandungan

أن رسول الله ص م : عن بيع حبال الجبلة . متفق عليه

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah saw melarang jual beli anak binatang yang masih dalam kandungan induknya”. (HR. Bukhori dan Muslim)

 

 

 

  • Ø Jual beli sperma hewan

عن جابربن عبدالله قا ل: نهى رسول الله ص م : عن بيع فضل الماء رواه مسلم

Artinya: “Rasulullah saw telah melarang jual beli air jantan binatang.” (HR. Muslim).

 

  • Ø Jual beli barang yang belum dimiliki

قال رسول الله ص م : لا تبيعن شيأ استريته حتى تقبضه.  رواه احمد والبيهقى

Artinya: “Nabi saw telah bersabda janganlah engkau menjual sesuatu yang baru saja engkau beli sehingga engkau menerima (memegang barang itu)”. (HR. Ahmad Baihaqi).

 

  • Ø Jual beli barang yang diharamkan

 

b. Jual beli yang sah tetapi terlarang

Misalnya:

  • Ø Jual beli pada waktu khutbah/sholat Jum’at bagi laki-laki.

Dasarnya:

يأيها الذين امنوآاذانودى للصلوة من يوم الجمعة فا سعواالى ذكرالله وذرواالبيع. ذالكم خيرلكم ان كنتم تعلمون 

 

  • Ø Jual beli dengan niat untuk ditimbun saat masyarakat membutuhkan

قال رسول الله ص م : لا يختكر الا خا طىء.  مسلم

Artinya: “Rasulullah saw telah bersabda tidaklah seseorang menimbun barang kecuali orang yang durhaka”. (HR. Muslim).

  • Ø Jual beli yang tidak mengetahui harga pasar
  • Ø Jual beli yang masih dalam tawaran orang lain

عن ابى هريرة قال رسول الله ص م : لا يبع بعضكم علىبيع بعض  متفق عليه

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda: janganlah kamu menjual atau membeli dari sebagian kamu atas barang yang sudah dijual atau dibeli oleh orang lain”. (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • Ø Jual beli dengan cara menipu/memainkan ukuran timbangan
  • Ø Jual beli untuk kemaksiatan

 

  1. 5.   Hikmah Jual Beli

Allah mensyari’atkan jual beli sebagai penberian keluangan dan keleluasaan dari-NYA untuk hamba-hamba-NYA, yang  membawa hikmah bagi manusia diantaranya:

  1. Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang menghargai hak milik orang lain.
  2. Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan.
  3. Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram atau secara bathil.
  4. Penjual dan pembeli sama-sama mendapat rizki Allah
  5. Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.
  6. 6.   Khiyar Dalam Jual Beli

Secara etimologi, khiyar berarti pilihan atau memilih yang terbaik. Secara terminologi, khiyar ialah mencari kebaikan dari dua perkara yaitu memilih antara melangsungkan atau membatalkan (jual beli) supaya tidak terjadi penyesalan di kemudian hari.

Hukum khiyar mubah (dibolehkan). Dasar hukumnya adalah Hadits Nabi:

وانت بالخيار بكل سلعة إبتعتها ثلا ث ليال.  رواه البيهقى وابن مجه

Artinya: “Engkau berhak dalam tiap-tiap barang yang kau beli selama 3 malam”. (HR. Baihaqi dan Ibnu Majjah).

  • Macam-macam Khiyar

a. Khiyar Majlis

Yaitu hak pilih dari kedua belah pihak yang berakad untuk meneruskan atau membatalkan akad, selama keduanya masih berada dalam majlis akad (toko) dan belum berpisah badan.  Sabda Rasulullah:

البيعان بالخيا ر مالم يتفرقا . رواه البخارى ومسلم

Artinya: “Dua orang yang berjual beli boleh memilih (akan meneruskan atau tidak) selema keduanya bercerai dari tempat akad” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

b. Khiyar ‘Aib (cacat)

Yaitu hak untuk membatalkan atau melangsungkan jual beli bagi kedua belah pihak yang berakad apabila terdapat suatu cacat pada obyek yang diperjualbelikan, dan cacat itu tidak diketahui pemiliknya ketika akad berlangsung. Dasarnya:

من اقال نادما اقال الله عشرته. رواه البزر

 

  1. Khiyar Syarat

Yaitu hak memilih untuk meneruskan atau membatalkan jual beli dengan syarat tertentu/tenggang waktu yang disepakati. setelah  sampai pada hari yang ditentukan, maka harusa ada ketegasan tentang jadi atau tidaknya. Dalam hal ini maksimal aktu yang ditentukan adalah 3 hari.

Sabda Rasulullah;

انت با لخيار فى كل سلعة ابتعتها ثلا ث ليال. رواه مسلم

Artinya: “Engkau boleh khiyar pada segala barang yang telah engkau beli selama tiga hari tiga malam(Riwayat Baihaqi dan Ibn Majjah)

  • Hikmah Khiyar
    • Ø Membuat akad jual beli berlangsung menurut prinsip-prinsip Islam, yaitu kerelaan dan ridha antara penjual dan pembeli.
    • Ø Mendidik masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan akad jual beli, sehingga pembeli mendapatkan barang dagangan yang baik, sepadan pula dengan harga yang dibayar.
    • Ø Penjual tidak semena-mena menjual barangnya kepada pembeli, dan mendidiknya agar bersikap jujur dalam menjelaskan keadaan barangnya.
    • Ø Terhindar dari unsur-unsur penipuan dari kedua belah pihak, karena ada kehati-hatian dalam proses jual beli.
    • Ø Khiyar dapat memelihara hubungan baik antar sesama. Sedangkan ketidakjujuran atau kecurangan pada akhirnya akan berakibat penyesalan yang mengarah pada kemarahan, permusuhan, dendam dan akibat buruk lainnya.
  1. B.    UTANG PIUTANG
    1. 1.    Pengertian Utang Piutang

Hutang-piutang menurut syara ialah aqad untuk memberikan sesuatu benda yang ada harganya atau berupa uang dari seseorang kepada orang lain yang memerlukan dengan perjanjian orang yang berutang akan mengembalikan dengan jumlah yang sama.

 

  1. 2.    Hukum Utang Piutang

Orang yang berhutang hukumnya mubah (boleh), sedangkan orang yang memberi pinjaman hukumnya sunnah, sebab ia termasuk orang yang menolong sesamanya. Hukum ini dapat berubah menjadI wajib jika orang yang meminjam itu benda-benar dalam keadaan terdesak, misalnya hutang beras bagi orang yang kelaparan, hutang uang untuk biaya pengobatan, dan lain sebagainya.

Rasulullah SAW bersabda : Dari Ibnu Mas’ud ra, sesungguhnya Nabi SAW telah besabda “Seorang muslim yang memberi pinjaman kepada seorang muslim dua kali, seolah-olah dia telah bersedekah kepadanya satu kali“. (HR. Ibnu Majah)

Antara orang yang menghutangi dengan orang yang berhutang dilarang memberikan syarat agar dalam pengembalian hutang itu dilebihkan nilainya. Sebagai contoh, sewaktu terjadi aqad, orang yang mengutangi sebesar Rp. 50.000 memberi syarat nanti ketika yang berutang mengembalikan hutangnya dalam jangka waktu 3 bulan menjadi Rp. 55.000. Tambahan itu tidak halal dan termasuk riba. Jika tambahan itu tidak disyaratkan pada waktu aqad tetapi secara sukarela dari orang yang meminjam tidak termasuk riba, bahkan dianjurkan.

Rasulullah SAW bersabda :”Maka sesungguhnya sebaik-baik kamu ialah orang yang sebaik-baiknya pada waktu membayar hutang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW telah berhutang binatang ternak, kemudian beliau membayar dengan binatang yang lebih besar umurnya daripada binatang yang beliau pinjam itu, dan Rasulullah bersabda : “Orang yang paling baik di antara kamu adalah orang yang membayar hutangnya dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad At-Turmudzi dan disahkannya).

 

  1. 3.    Rukun Utang Piutang
    1. Lafaz.( kalimat mengutangi) seperti: “saya uatangkan ini kepada engkau” jawab yang berhutang “ saya mengaku berhutang kepada engkau”
    2. Yang berpiutang dan yang berhutang
    3. Barang yang dihutangkan
    4. 4.    Menambah Bayaran

Melebihkan bayaran dari sebanyak hutang, kalau kelebihan itu memang kemauan yang berhutang dan tidak atas perjanjian sebelumnya, maka kelebihan itu boleh (halal) bagi yang mengutangkannya, dan menjadi kebaikan untuk orang yang memebayar utang.

  1. C.   RIBA
    1. 1.    Pengertian Riba

Riba menurut bahasa artinya الزيادة yaitu tambahan atau kelebihan. Riba menurut istilah syara’ ialah suatu aqad perjanjian yang terjadi dalam tukar-menukar suatu barang yang tidak diketahui sama atau tidaknya menurut syara’ atau dalam tukar-menukar itu disyaratkan dengan menerima salah satu dari dua barang.

 

 

  1. 2.    Hukum Riba

Riba hukumnya haram dan Allah melarang untuk memakan barang riba. Allah SWT berfirman :

واحل الله البيع وحرم الربوا

Artinya: Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah : 275).

يآايهاالذين امنوآ لا تأكلواالربوآاضعافا مضعفة   واتقواالله لعلكم تفلحون

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran : 130).

 

Rasulullah SAW bersabda :Dari Jabir ra, ia berkata, Rasulullah SAW telah melaknat orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya dan (selanjutnya Nabi bersabda) mereka itu semua sama saja.” (HR. Muslim).

 

  1. 3.    Macam-macam Riba

Menurut pendapat sebagian ulama’, riba itu da empat macam:

  1. a.   Riba Fadhli (الربواالفضل  )

Yaitu tukar-menukar suatu barang yang sama jenisnya tapi tidak sama ukurannya/takarannya.

Contoh: Seseorang menukarkan seekor kambing dengan kambing lain yang lebih besar, kelebihannya disebut riba fadhli.

 

 

  1. b.  Riba Qardhi (الربواالقرضى )

Yaitu meminjamkan sesuatu dengan syarat ada keuntungan atau tambahan.

Contoh: Pinjam uang Rp. 10.000,- waktu mengembalikan minta tambahan menjadi RP. 12.000,- Maka yang Rp. 2000,- termasuk riba qordhi.

 

  1. c.   Riba Yad (  الربوااليد)

Yaitu berpisah dari tempat aqad jual-beli sebelum serah terima.

Contoh: Seseorang membeli barang, setelah dibayar si penjual langsung pergi padahal barang belum diketahui jumlah dan ukurannya.

 

  1. d.  Riba Nasiah (الربواالنسئة)

Yaitu tukar menukar suatu barang, yang pembayarannya disyaratkan lebih oleh penjual.

Contoh: Beli radio                   Rp. 50.000,- (jika kontan)

Menjadi                     Rp. 60.000,- (jika hutang)

(yang Rp. 10.000,- termasuk riba nasi’ah).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. III.             PENUTUP

 

KESIMPULAN

  1. A.      JUAL BELI
    1. 1.   Pengertian jual beli menurut istilah adalah tukar menukar sesuatu barang dengan barang lain atas dasar suka sama suka dengan syarat dan rukun tertentu.
    2. 2.   Hukum jual beli adalah jaiz/mubah (dibolehkan)
    3. 3.   Rukun dan syarat Jual beli
  • Ø Penjual, syaratnya: Baligh (dewasa), berakal sehat, kehendak sendiri,, serta dilakukan atas dasar suka sama suka
  • Ø Pembeli, syaratnya: Baligh (dewasa), berakal sehat, kehendak sendiri, dilakukan atas suka sama suka
  • Ø Barang yang diperjual belikan, syaratnya: Suci, bermanfaat, milik sendiri (diberi kuasa untuk menjual), jelas dan dapat diketahui kedua belah pihak, serta dapat dikuasai oleh penjual atau pembeli
  • Ø Alat tukar, syaratnya: Berupa alat tukar yang syah dan masih berlaku, tidak najis/haram, dan diperoleh dengan jalan halal
  • Ø Sighat ijab qobul/serah terima, syaratnya: Keadaan ijab qobul berhubung, maksud ijab qobul dapat diketahui keduanya, serta dengan kerelaan hati
  1. 4.   Jual beli yang dilarang antara lain:

Jual yang terlarang karena kurang syarat dan rukunnya:

  • Ø Jual beli system ijon
  • Ø Jual beli anak binatang ternak yang masih di dalam kandungan
  • Ø Jual beli sperma hewan
  • Ø Jual beli barang yang belum dimiliki
  • Ø Jual beli barang yang diharamkan.

 

Jual beli sah tetapi terlarang

  • Jual beli padawaktu khutbah sholat Jum’at bagi laki-laki
  • Jual beli dengan niat untuk ditimbun saat masyarakat membutuhkan
  • Jual beli yang tidak mengetahui harga pasar
  • Jual beli yang masih dalam tawaran orang lain
  • Jual beli dengan cara menipu/memainkan ukuran timbangan
  • Jual beli untuk kemaksiatan
  1. 5.   Hikmah jual beli
  • Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang menghargai hak milik orang lain.
  • Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan.
  • Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram atau secara bathil.
  • Penjual dan pembeli sama-sama mendapat rizki Allah
  • Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan.
  1. 6.   Khiyar dalam jual beli serta macam-macamnya

Khiyar adalah mencari kebaikan dari dua perkara yaitu memilih antara melangsungkan atau membatalkan (jual beli) supaya tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Macam-macam khiyar antara lain:

  • Ø Khiyar Majlis
  • Ø Khiyar’aib (cacat)
  • Ø Khiyar syarat
  1. 7.   Hikmah khiyar
  • Membuat akad jual beli berlangsung menurut prinsip-prinsip Islam, yaitu kerelaan dan ridha antara penjual dan pembeli.
  • Mendidik masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan akad jual beli,
  • Penjual tidak semena-mena menjual barangnya kepada pembeli, dan mendidiknya agar bersikap jujur dalam menjelaskan keadaan barangnya.
  • Terhindar dari unsur-unsur penipuan dari kedua belah pihak kehati-hatian.
  • Memelihara hubungan baik antar sesama
  1. B.       UTANG PIUTANG
    1. Pengertian Utang piutang adalah aqad untuk memberikan sesuatu benda yang ada harganya atau berupa uang dari seseorang kepada orang lain yang memerlukan dengan perjanjian orang yang berutang akan mengembalikan dengan jumlah yang sama.
    2. Hukum utang piutang adalah mubah (boleh).
    3. Rukun Utang Piutang: Lafaz.( kalimat mengutangi) , yang berpiutang dan yang berhutang, barang yang dihutangkan

 

  1. C.      RIBA
    1. 1.    Pengertian riba  adalah suatu aqad perjanjian yang terjadi dalam tukar-menukar suatu barang yang tidak diketahui sama atau tidaknya menurut syara’ atau dalam tukar-menukar itu disyaratkan dengan menerima salah satu dari dua barang.
    2. 2.    Hukum riba adalah haram
    3. 3.    Jenis Riba, antara lain:
  • Riba Fadhli
  • Riba Qordhi
  • Riba Nasi’ah

 

 

 

 

 

 

 

SARAN

Setelah penulis menyampaikan makalah di atas, maka penulis dapat menyarankan bahwa hendaknya kita hati-hati dalam melaksanakan praktek muamalah kita seperti jual beli, utang piutang maupun yang lainnya. Apakah selama ini yang kita lakukan itu sudah benarataukah masih perlu banyak pembenahan dan arahan?. Ternyata kita memang sangat perlu untuk mempelajari hal ini karena bagaimanapun hal tersebut sudah sangat kental dan melekat dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai nanti pada akhirnya menimbulkan mudharat atau mungkin kerugian bahkan permusuhan antar sesama karena suatu hal yang belum benar-benar kita mengerti.Jangan sampai kita terjeratdalam lingkaran riba yang diharamkan Allah. Karena dalam hal ini sesungguhnya agama juga telah memberikan tuntunan serta aturan yang baik untuk menjawab segala problema kehidupan manusia termasuk pengajaran tentang muamalah. Penulisjuga menyarankan agar kita semua mempelajari tentang muamalah sebagai pedoman hidup bermasyarakat.

 

 Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya, kiranya kritik dan saran yang membangun sangat penulis butuhkan untuk kesempurnaan makalah ini ke depannya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca sekalian, khususnya bagi penulis. Amien…..

 

~   ~   ~   ~  @@   ~   ~   ~   ~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Amar, Abu Imron.1982. Fathul Qorib. Kudus: Menara Kudus

 

As’ad, Aliy. 1979. Fathul Mu’in.  Kudus: Menara Kudus

 

Hasan, Ali. 2004. Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam. Jakarta: PT Raja

                        Grafindo

 

Rasjid, Sulaiman. 2003. Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo Bandung

 

Sabiq, sayyid. 1998. Fiqh Sunnah. Bandung : Al-Ma’arif.