MAKALAH
KAIDAH yang MUKHTALAF
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “Qowa’idul Fiqiyah”
Dosen Pembimbing:
Bisri Mustofa M.Pd.I

Disusun Oleh:
Rahmad Nur Wakhid
SEMESTER 3-B

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM “MIFTAHUL ‘ULA”
NGLAWAK KERTOSONO NGANJUK
OKTOBER, 2011
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kaidah-kaidah fiqih yaitu kaidah-kaidah yang bersifat umum yang mengelompokkan masalah-masalah fiqih terperinci menjadi beberapa kelompok adalah merupakan kaidah atau pedoman yang memudahkan mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah yaitu dengan cara mengolongkan masalah-masalah yang serupa dibawah suatu kaidah.
Dalam makalah ini menerangkan tentang kaidah-kaidah yang masih diperselisihkan oleh para Ulama’ dan karenanya tarjihnya (manakah yang lebih kuat dari pendapat-pendapat tersebut) pun tidak dapat dipastikan. Walaupun begitu, di antara cabangnya (dari kaidah-kaidah ini) ada pula beberapa yang disepakati (tidak diperselisihkan). Kaidah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah kaidah yang mukhtalaf yang berjumlah 20 kaidah. Akan tetapi dititik beratkan pada kaidah yang pertama dan kaidah yang kedua.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami mendiskusikan permasalahan mengenai dua kaidah yaitu kaidah yang pertama dan kaidah yang kedua, yaitu sebagai berikut:
1.2.1 Kaidah mukhtalaf Pertama.
1.2.2 Kaidah mukhtalaf Kedua.
1.3 tujuan pembahasan
Dengan mengetahui latar belakang dan rumusan masalah diatas dapat ditarik tujuan pembahasan sebagai berikut :
1.3.1 untuk mengetahui kaidah mukhtalaf pertama.
1.3.2 untuk mengetahui kaidah mukhtalaf kedua.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kaidah Pertama
“Shalat jum’at itu merupakan shalat dhuhur yang diringkas , ataukah shalat tersendiri?.”
Pendapat 1 : Shalat jum’at merupakan shalat dhuhur yang diringkas.
Pendapat 2 : Shalat jum’at merupakan shalat tersendiri.
Jawab : Shalat jum’at adalah shalat yang berdiri sendiri, dan dapat menggugurkan shalat dhuhur.
Persoalan : Dapatkah shalat jum’at dijama’ dengan shalat Ashar ?
Menurut pendapat 1 : Boleh.
Menurut pendapat 2 : Tidak boleh.
Jawab : Tidak boleh, dikarenakan shalat jum’at bukan shalat lima waktu. Meskipun shalat jum’at dapat menggugurkan shalat dhuhur.

2.2 Kaidah Kedua
“Shalat dibelakang orang yang hadats yang tidak diketahui keadaanya, kalau kita menggangapnya sah, apakah shalat itu merupakan shalat jama’ah ataukah shalat sendirian?.”
Pendapat 1 : shalat itu merupakan shalat jama’ah.
Pendapat 2 : shalat itu dihitung sebagaimana shalat sendirian.
Jawab : Kalau tidak diketahui keadaanya shalat itu tetap sah dan tetap dianggap jama’ah. Tapi bila diketahui keadaanya, maka shalatnya tidak sah dan tidak dianggap jama’ah.
Persoalan : bagaimanakah seseorang yang makmum kepada orang lain yang hadats, jika shalatnya itu shalat jum’at?.
Menurut pendapat 1 : shalatnya sah
Menurut pendapat 2 : shalatnya tidak sah
Jawab : Jelas tidak sah shalatnya, dikarenakan imam dalam keadaan berhadats, meskipun itu dalam shalat jum’at, tetap tidak sah.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan:
3.1.1 Shalat jum’at adalah shalat yang berdiri sendiri, dan dapat menggugurkan shalat dhuhur. Shalat jum’at tidak dapat dijama’ , dikarenakan shalat jum’at bukan shalat lima waktu. Meskipun shalat jum’at dapat menggugurkan shalat dhuhur.

3.1.2 Kalau tidak diketahui keadaanya dalam keadaan berhadats maka shalat yang dikerjakan tetap sah dan tetap dianggap jama’ah. Tapi bila diketahui keadaanya dalam keadaan berhadats maka shalatnya tidak sah dan tidak dianggap jama’ah.

3.2 DAFTAR PUSTAKA
Adib Bisri, Moh. 1997. AL FARAIDUL BAHIYAH. Rembang.: Menara Kudus
“Kitab Al Makhali”