SISTEM PENDIDIDKAN PADA MASA KERAJAAN ISLAM di INDONESIA

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah SPI

Yang dibimbing oleh : Drs. H Miskar Ma

 

Disusun kelompok  :

Rahmad Nur Wakhid

Anik Rahayu

 

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM “MIFTAKHUL ‘ULA’’

NGLAWAK KERTOSONO NGANJUK

Fakultas Tarbiyah

Prodi S1 PAI

Desember 2011

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

Masa kerajaan islam, merupakan salah satu dari periodesasi perjalanan Sejarah Pendididkan Islam di Indonesia, sebab sebagaimana lahirnya kerajaan Islam yang disertai dengan berbagai kebijakan dari penguasanya saat itu, sangat mewarnai Sejarah Islam di Indonesia, terlebih-lebih agama Islam juga pernah dijadikan sebagai agama resmi negara/kerajaan pada saat itu.Karena itulah, bila kita berbicara tentang perjalanan sejarah pendidikan Islam di Indonesia, tentu saja kita tidak bisa mengenyampingkan bagaimana keadaan Islam itu sendiri pada masa kerajaan Islam.Berikut ini akan dikemukakan beberapa kerajaan Islam di Indonesia, serta bagaimana peranya dalam pendidikan Islam dan dakwah islamiyah tentunya.

1.2          Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut terdapat rumusan masalah, sebagai berikut:

1)    Bagaimana sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam di Aceh ?

2)    Bagaimana sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam di Demak ?

3)    Bagaimana sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam mataram ?

4)    Bagaimana sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam di Banjarmasin ?

1.3          Tujuan

Dari rumusan masalah tersebut bertujuan untuk :

1)      Mengetahui sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam di Aceh

2)      Mengetahui sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam di Demak

3)      Mengetahui sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam Mataram

4)      Mengetahui sistem pendidikan pada masa kerajaan Islam di Banjarmasin

 

BAB II PEMBAHASAN

SISTEM PENDIDIKAN PADA MASA KERAJAAN ISLAM di INDONESIA

 

  1. A.  Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Aceh
    1. 1.   Kerajaan Samudra Pasai

Para ahli sependapat bahwa agama islam sudah masuk ke Indonesia (khususnya sumatra) sejak abad ke-7 atau 8 M, meskipun ketentuan tentang tahunya secara pasti terdapat sedikit perbedaan.

Meskipun Islam sudah masuk abad ke-7 atau 8 M tersebut, ternyata dalam perkembanganya mengalami proses yang cukup lama, baru bisa mendirikan sebuah kerajaan Islam. Hal ini disebabkan, bahwa Islam itu masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang dan dengan cara damai, ditambah lagi bahwa masyarakat Islam tidak begitu berambisi untuk merebut kekuasaan politik, yang menyebabkan Islam berjalan dengan damai dan wajar.

Dari beberapa catatan sejarah, bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Al-Malik Ibrahim bin Mahdum. Tapi catatan lain ada yang menyatakan bahwa kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah Kerajaan Perlak. Hal ini dikuatkan oleh Yusuf Abdullah Puar, dengan mengutip pendapat seorang pakar sejarah Dr. NA. Baloch dalam bukunya “Advend of Islam in Indonesia”. Tapi sayang sekali bukti-bukti kuat yang mendukung fakta sejarah ini tidak banyak ditemukan, terutama menyangkut referensi yang mengarah ke arah itu.

Seorang pengembara dari maroko yang bernama Ibnu Batutah pada tahun 1345 M sempat singah di kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az Zahir, saat perjalananya ke Cina. Ibnu Batutah menuturkan bahwa ia sangat mengagumi akan keadaan kerajaan Pasai, dimana rajanya sangat alim dan begitu pula dalam ilmu agamanya, dengan menganut paham Mazhab Syafi’I, dan serta mempraktekkan pola hidup yang sangat sederhana.

Menurut apa yang dikemukakan Ibnu Batutah tersebut, dapat ditarik kepada sistem pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai, yaitu:

a)      Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at ialah fiqh mazhab Syafi’i.

b)      Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis ta’lim dan halaqah.

c)      Tokoh  pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama.

d)      Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.

Pada zaman kerajaan Pasai ini, sudah terjadi hubungan antara Malaka dengan Pasai, bahkan Islam berkembang di Malaka lewat Pasai. Raja Malaka memeluk Islam karena menikah dengan putri dari kerajaan Pasai.

 

  1. 2.    Kerajaan Perlak

Di atas sudah dikemukakan bahwa kerajaan Perlak merupakan salah satu Kerajaan Islam tertua di Indonesia, bahkan ada yang menyatakan lebih dahulu dari Kerajaan Samudra Pasai. Alasannya, seorang putrid dari Sultan Perlak Muhammad Amin Syah (1225-1263) yang bernama Putri Ganggang Sari telah menikah dengan  Merah Selu (Malik As Shaleh) yang diketahui adalah Raja Pasai pertama. Namun sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa tidak banyak bahan kepustakaan yang menjurus ke arah itu untuk menguatkan pendapat tersebut.

  Yang jelas Perlak merupakan daerah yang terletak sangat strategis di Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hindu. Berdasarkan factor demikian maka Islam dengan mudah sekali bertapak di Perlak tanpa kegoncangan social dengan penduduk pribumi.

Berita perjalanan Marco Polo seorang kebangsaan Italia pengeliling dunia, pernah singgah di Perlak pada tahun 1292 M. Dia menerangkan bahwa Ibukota Perlak ramai dikunjungi pedagang Islam dari Timur Tengah, Parsi dan India, yang sekaligus melakukan tugas-tugas dakwah.

Menurut riwayatnya, Sultan Mahmudin Alauddin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M tercatat sebagai sultan yang keenam, terkenal sebagai seorang sultan yang arif bijaksana lagi alim sekaligus seorang ulama. Dan sultan inilah yang mendirikan semacam perguruan tinggi Islam pada saat itu.

Begitu pula di Perlak ini terdapat suatu lembaga pendidikan lainya berupa majelis ta’lim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim dan mendalam ilmunya. Pada majelis ta’lim ini diajarkan kitab-kitab agama yang punya bobot dan pengetahuan tinggi, seperti kitab Al Um karangan Imam Syafi’i dan sebagainya.

Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan dengan baik.

  1. 3.   Kerajaan aceh Darussalam (1511-1874)

Ketika kerajaan Islam Pasai mengalami kemunduran, di Malaka berdiri sebuah Kerajaan yang diperintah oleh Sultan Muhammad Syah. Namun kerajaan ini pun tidak bisa bertahan lama, setelah mengalami masa keemasan yaitu ketika Sultan Muszaffar Syah (1450) memerintah. Sesudah itu terus mengalami kemunduran. Ia tidak mampu menguasai pengaruh dari luar terutama yang berada di Aceh. Maka sejak itulah Kesultanan di Aceh mulai berkembang.

Kerajaan Aceh Darussalam yang diproklamasikan pada tanggal 12 zulkaijah 916 H (1511 M) menyatakan perang terhadap buta huruf dan buta ilmu. Hal ini merupakan tempaan sejak berabad-abad yang lalu, yang berlandaskan Pendidikan Islam dan ilmu pengetahuan.

Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam –tersebut adalah hasil peleburan Kerajaan Islam Aceh di belahan barat dan Kerajaan Islam Samudra Pasai di belahan timur. Putra Sultan Abiddin Syamsu Syah diangkat menjadi raja dengan gelar Sultan Alauddin Ali Mughayat Syah (1507-1522)

Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan di luar negeri, sehingga banyaklah orang luar yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu. Bahkan Ibukota kerajaan Aceh Darussalam terus berkembang menjadi Internasional dan menjadi pusat   perkembangan  ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Karena itulah beberapa kalangan ada yang menyatakan , bahwa pada saat-saat kekuatan imperialis barat telah mematahkan sebagian besar negara-negara Islam, pada waktu itulah yaitu sekitar permulaan abad 16 M lahir Lima Besar Islam yang terikat dalam suatu kerjasama ekonomi, poitik, militer, dan kebudayaan, meliputi:

  1. Kerajaan Turki Usmani di Istambul
  2. Kerajaan Islam Maroko di Afrika Utara
  3. Kerajaan Islam Isfahan di Timur Tengah
  4. Kerajaan Islam Akra di India
  5. Kerajaan Islam Aceh Darussalam di Asia tenggara

Dalam bidang pendidikan di Kerajaan Aceh Darussalam adalah benar-benar mendapat perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, diantaranya:

  • Balai Seutia Hukama;

Merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama’, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

  • Balai Seutia Ulama’;

Merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.

  • Balai Jama’ah Himpunan Ulama’;

Merupakan kelompok studi tempat para ulama’ dan sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan-persoalan pendidikan dan ilmu pendidikan.

Adapun jenjang pendidikan yang ada adalah sebagai berikut:

  • Meunasah (madrasah);

Terdapat disetiap kampung, berfungsi sebagai sekolah dasar,materi yang diajarkan yaitu; menulis dan membaca huruf arab, ilmu agama, bahasa Jawi/Melayu, akhlak dan sejarah Islam.

  • Rangkang;

Diselengarakan disetiap mukim, merupakan masjid sebagai tempat berbagai aktifitas ummat termasuk pendidikan. Rangkang adalah setingkat Madrasah Tsanawiyah. Materi yang diajarkan; bahasa arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, (hisab), akhlak, fiqh, dan lain-lain.

  • Dayah;

Terdapat disetiap daerah ulebalang dan terkadang berpusat di masjid, dapat disamakan dengan Madrasah Aliyah sekarang, Materi yang diajarkan; fiqh (hukum islam), bahasa arab, tauhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah/tata negara, ilmu pasti dan faraid.

  • Dayah Teuku Cik;

Dapat disamakan dengan perguruan tinggi atau akademi, diajarkan fiqh, tafsir, hadits, tauhid (ilmu kalam), akhlak/tasawuf, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa di Kerajaan Aceh Darussalam ilmu pengetahuan benar-benar berkembang dengan pesat dan mampu melahirkan para ulama’ dan ahli ilmu pengetahuan, seperti: Hamzah Fansuri, Syekh Syamsudin Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar Raniry dan Syekh Abdur Rauf Tengku Syiah Kuala, yang merupakan nama-nama yang tidak asing lagi sampai sekarang ini. Bahkan diantaranya ada yang diabadikan menjadi nama perguruan tinggi terkenal di Aceh yaitu IAIN Ar Raniry dan Universitas Syiah Kuala.

 

  1. B.  Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Demak

Salah seorang raja Majapahit bernama Sri Kertabumi mempunyai istri yang beragama Islam yang bernama Putri Cempa. Kejadian tersebut tampaknya sangat besar pengaruhnya terutama dalam rangka dakwah Islam. dari Putri Cempa inilah lahir seorang putra yang bernama Raden Fatah, yang kemudian kita ketahui menjadi Raja Islam pertama di jawa (Demak).

Tentang berdirinya kerajaan demak, para ahli sejarah tampaknya berbeda pendapat. Sebagian ahli berpendapat bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 M, pendapat ini berdasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit. Adapula yang berpendapat, bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1518 M. Hal ini berdasarkan, bahwa pada tahun tersebut merupakan tahun berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya VII yang mendapat serbuan tentara Raden Fatah dari Demak.

Kendatipun demikian, kehadiran kerajaan Demak bukan penyebab runtuhnya Majapahit. Keruntuhanya lebih banyak disebabkan kelemahan dan kehancuran Majapahit dari dalam sendiri, setelah wafatnya Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Kerajaan majapahit didahului oleh kelemahan pemerintah pusatnya yang disusul oleh perang saudara. Misalnya perang antara Bre Wirabumi dengan putri mahkota Kusumawardani, perang saudara di Majapahit ini berkepanjangan dengan memakan waktu kurang lebih 30 tahun, yang melibatkan 6 orang ahli waris dari Hayam Wuruk. Dengan demikian keruntuhan tersebut jelas bukan disebabkan oleh agama Islam.

Kehadiran kerajaan Islam Demak dipandang oleh rakyat Majapahit sebagai cahaya baru yang membawa harapan. Kerajaan Islam itu diharapkan sebagai kekuatan baru yang akan menghalau segala bentuk penderitaan lahir dan mendatangkan kesejahteraan. Raja Majapahit sudah kenal Islam jauh sebelum kerajaan Demak berdiri. Bahkan keluarga Raja Brawijaya sendiri kenal agama Islam melalui putri Cempa yang selalu bersikap ramah dan damai.

Tentang sikap Raden Fatah tatkala terjadi penyerbuan terrhadap istana Majapahit olleh Ranawijaya Girindrawardhana yang menyebabkan tewasnya ayah handanya Raja kertabumi didalam keratin adalah sekedar bertahan dan membela hak waris atas Majapahit. Sebab kalau memang yang melakukan penyerbuan kudeta di Majapahit pada saat itu ialah Raden Fatah, mengapa pada saat tersebut dia tidak memproklamasikan dirinya sebagai pengganti sekaligus. Semua itu sebenarnya otomatis di anggap sah, dan haknya sebagai putra mahkota.

Tapi nyatanya Demak sendiri baru dinyatakan berdiri sekitar tahun 1518 M. Dalam tahun ini terjadi pertempuran antara penerus kekuasaan Majapahit Patih Udara dengan Adipati Yunus yang berkuasa di Demak. Setelah terjadinya pertempuran tersebut, kekuasaan Majapahit praktis berakhir.

Dengan berdirinya agama Islam Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di jawa tersebut, maka penyiaran agama Islam makin meluas, pendidikan dan pengajaran Islam pun bertambah maju.

  • Pelaksanaan Pendidikan Islam di Kerajaan Demak

Tentang sistem pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh, yaitu dengan mendirikan masjid di tempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah, disana diajarkan pendidikan agama dibawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam.

Wali suatu daerah diberri gelaran resmi, yaitu gelar  sunan dengan ditambah nama daerahnya, sehingga tersebutlah nama-nama seperti: Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Kiai Ageng Tarub, Kiai Ageng Sela dan lain-lain.

Memang antara Kerajaan Deamak dengan wali-wali yang Sembilan atau Walisonggo terjalin hubungan yang bersifat khusus, yang boleh dikatakan semacam hubungan timbal-balik, dimana sangatlah besar peranan para walisonggo di bidang dakwah Islam, dan juga Raden Fatah sendiri menjadi raja adalah atas rasa keputusan para wali dan dalam hal ini para wali tersebut juga sebagai penasehat dan pembantu raja.

Dengan kondisi yang demikian, maka yang menjadi sasaran pendidikan dan dakwah Islam meliputi kalangan pemerintah dan rakyat umum.

Adanya kebijaksanaan wali-wali menyiarkan agama dan memasukkan anasir-anasir pendidikan dan pengajaran Islam dalam segala cabang kebudayaan nasional Indonesia, sangat mengembirakan, sehingga agama Islam dapat tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

 

 

  1. C.  Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam Mataram

Kerajaan Demak ternyata tidak bertahan lama, pada tahun 1568 M terjadi perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang. Namun adanya perpindahan ini tidak menyebabkan terjadinya perubahan yang berarti terhadap sistem pendidikan dan pengajaran Islam yyang sudah berjalan.

Baru setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram (1586), terutama di saat Sultan Agung (1613) berkuasa, terjadi beberapa macam perubahan. Sultan Agung setelah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerrah-daerah yang lain, sejak tahun 1630 M mencurahkan perhatianya untuk membangun negara, seperti menggalakkan pertanian, perdagangan dengan luar negeri dan sebagainya,bahkan pada zaman Sultan Agung juga kebudayaan, kesenian dan kesusastraan sangat maju.

Atas usaha dan kebijaksanaan dari Sultan Agung lah kebudayaan lama yang berdsarkan Indonesia asli dan Hindu dapat diadaptasikan dengan agama dan kebudayan Islam, seperti:

  1. Grebek disesuaikan denga hari raya Idul Fitri dan Maulid Nabi. Sejak saat itu terkenal dengan Grebek Poso (Puasa) dan Grebek Mulud.
  2. Gamelan sekaten yang hanya dibunyikan pada Grebek mulud, atas kehendak Sultan Agung dipukul dihalaman masjid besar.
  3. Karena hitungan tahun Saka (Hindu) yang dipakai di Indonesia (Jawa) berdasarkan hitungan perjalanan matahari, berbeda dengan tahun Hijriah yang berdasarkan perjalanan bulan, maka pada tahun 1633 M atas perintahan Sultan Agung, tahun yang saka yang telah berangka 1555 saka, tidak lagi ditambah dengan hitungan matahari, melainkan dengan hitungan perjalanan bulan, sesuai dengan tahun Hijriah. Tahun yang baru disusun disebut tahun jawa, dan sampai sekarang tetap jugadipergunakan.

 

  • Pelaksanaan Pendidikan dan Pengajaran Agama Islam

Pada zaman kerajaan Mataram, pendidikan sudah mendapat perhatian sedemikian rupa, seolah-olah tertanam semacam kesadaran akan pendidikan pada masyarakat kala itu. Meskipun tidak ada semacam undang-undang wajib belajar, tapi anak-anak usia sekolah tampaknya harus belajar pada tempat-tempat pengajian di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri.

Ketika itu hampir disetiap desa diadakan tempat pengajian alquran, yang diajarkan huruf hijaiyah, membaca alquran, barzanji,, pokok dan dasar-dasar ilmu agama Islam dan sebagainya. Adapun cara mengajarkannya adalah dengan cara hafalan semata-mata. Di setiap tempat pengajian dipimpin oleh guru yang bergelar modin.

Selain pelajaran alquran, juga ada tempat pengajian kitab, bagi murid-murid yyang  telah khatam mengaji alquran. Tempat pengajianya disebut pesantren. Para santri harus tinggal di asrama yang  dinamai pondok, di dekat pesantren tersebut.

Adapun cara yang dipergunakan untuk mengajar kitab ialah dengan sistem sorogan, seorang demi seorang bagi murid-murid permulaan, dan dengancara bendungan (halaqah) bagi pelajar-pelajar yang sudah lamadan mendalam keilmuanya.

Sementara itu pada beberapa daerah Kabupaten diadakan pesantren besar, yang dilengkapi dengan pondoknya, untuk kelanjutan bagi santri yang telah menyelesaikan pendidikan di pesantren-pesantren desa. Pesantren ini adalah sebagai lembaga pendidikan tingkat tinggi.

Kitab-kitab yang diajarkan pada pesantren besar itu ialah kitab-kitab besar dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kata demi kata kedalam bahasa daerah dan dilakukan secara halaqah. Bermacam-macam ilmu agama telah diajarkan disini, seperti: fiqh, tafsir, hadits, ilmu kalam, tasawuf dan sebagainya. Selain pesantren besar, juga diselenggarakan semacam pesantren takhassus, yang mengajarkan satu cabang ilmu agama dengan cara mendalam atau spesialisasi.

 

  1. Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Banjarmasin

Kerajaan Demak memainkan peranan penting dalam memasukkan Islam ke Kalimantan, dan perkembanganya mulai mantap setelah berdirinya Kerajaan Islam Banjarmasin dibawah pimpinan Sultan Suriansyah.

Tentang awal berdirinya Kerajaan Islam Banjar ini, menurut Drs. Idwar Saleh. Ketua MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) cabang Banjarmasin, ialah pada hari Rabu Wage, 24 September 1526 M, dua hari sebelum hari raya Idul Fitri, sesudah Pangeran Samudra yang kemudian berganti nama dengan Sultan Syuriansyah menang perang dengan Pangeran Tumenggung di Negara Daha.

Sesudah kerajaan Islam Banjar berdiri dibawah pimpinan Sultan Syuriansyah, sebagai kerajaan Islam yang pertama, maka perkembangan Islam makin maju, masjid-masjid dibangun hampir di setiap desa.

Perkembangan yang sangat mengembirakan, pada tahun 1710 M (tepatnya syafar 1122 H) di zaman Kerajaan Islam Banjar ke- 7 dibawah pemerintahan Sultan Tahmilillah (1700-1748) telah lahir seorang ulama’ terkenal kemudiannya yaitu Syekh Muhammad Arsyad al Banjary di desa Kalampayan Martapura.

Syekh Muhammad Arsyad yang sejak kecil di asuh oleh Sultan Tahmilillah ini cukup lama berstudi di Mekah yaitu sekitar 30 tahun, sehingga pada giliranya beliau terkenal keulamaanya dan kedalaman ilmunya, tidak saja terkenal di Kalimantan dan Indonesia, tapi sampai keluar negeri, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Syekh Muhammad Arsyad banyak mengarang kitab-kitab agama, di antaranya yang paling terkenal sampai sekarang  adalah Kitab Sabilul Muhtadin. Sultan Tahmilillah mengangkatnya sebagai mufti besar Kerajaan Banjar. Syekh Muhammad Arsyad juga berjasa besar dalam mendirikan pondok pesantren di kampung Dalam Pagar, yang sampai sekarang masih terkenal dengan sebutan pesantren Darussalamnya.

 Sistem pengajian kitab di pesantren Banjarmasin, tidak berbeda dengan sistem pengajian kitab di pondok pesantren Jawa ataupun Sumatra, yaitu dengan mempergunakan sistem halaqah, menerjemahkan kitab-kitab yang dipakai ke dalam bahasa daerah (Banjar), sedang para santrinya menyimaknya.

Sebelum tampilnya Syekh Muhammad Arsyad, di Banjarmasin juga sudah terdapat seorang ulama’ besar, yaitu Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjary, yang mengarang sebuah kitab tasawuf “Addarunnafis”. Bagaimana tingginya iman dan ketebalan tauhid ummat Islam di zaman itu, dapatlah terbaca pada karya Syekh Nafis Al Banjary ini, sehingga bagi yang iman tauhidnya belum mencukupi, niscaya kitab ini akan membahayakan kepada iman dan tauhid seseorang.

Ketika pemerintah kolonial Belanda, menancapkan kekuasaanya di daerah Banjar, atas pimpinan seorang ulama besar Pangeran Antasari, meletuskan perang Banjar yang terkenal, sejat tanggal 28 April 1859. Perang tersebut berlangsung lebih dari 40 tahun lamanya, dan baru mereda perlawanan orang-orang Banjar tersebut setelah wafatnya Pangeran Antasari.

Demikianlah bagaimana keadaan pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam, yang jelas pada saat ini Islam telah berkembang sedemikian rupa. Meskipun hanya beberapa kerajaan Islam yang penulis kemukakan di dalam tulisan ini, bukan berarti mengecilkan arti pentingnya kerajaan-kerajaan Islam yang lain, bahkan yang tak kalah pentingnya seperti Kerajaan Islam di Sulawesi, Kerajaan Islam di Maluku dan sebagainya, yang sangat besar perananya baik dalam pelaksanaan pendidikan Islam maupuin dakwah Islamiyah tentunya.

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

  1. A.  Kesimpulan
  • Ø Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Aceh

ü Kerajaan Samudra Pasai:

  • Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at ialah fiqh mazhab Syafi’i.
  • Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis ta’lim dan halaqah.
  • Tokoh  pemerintahan merangkap sebagai tokoh agama.
  • Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.

ü  Kerajaan Perlak:

Menurut riwayatnya, Sultan Mahmudin Alauddin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M tercatat sebagai sultan yang keenam, terkenal sebagai seorang sultan yang arif bijaksana lagi alim sekaligus seorang ulama. Dan sultan inilah yang mendirikan semacam perguruan tinggi Islam pada saat itu.

Begitu pula di Perlak ini terdapat suatu lembaga pendidikan lainya berupa majelis ta’lim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim dan mendalam ilmunya. Pada majelis ta’lim ini diajarkan kitab-kitab agama yang punya bobot dan pengetahuan tinggi, seperti kitab Al Um karangan Imam Syafi’i dan sebagainya.

Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan dengan baik.

ü Kerajaan aceh Darussalam (1511-1874)

Dalam bidang pendidikan di Kerajaan Aceh Darussalam adalah benar-benar mendapat perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, diantaranya:

  • Balai Seutia Hukama;

Merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama’, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

  • Balai Seutia Ulama’;

Merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.

  • Balai Jama’ah Himpunan Ulama’;

Merupakan kelompok studi tempat para ulama’ dan sarjana berkumpul untuk bertukar pikiran membahas persoalan-persoalan pendidikan dan ilmu pendidikan.

Adapun jenjang pendidikan yang ada adalah sebagai berikut:

  • Meunasah (madrasah);

Terdapat disetiap kampung, berfungsi sebagai sekolah dasar,materi yang diajarkan yaitu; menulis dan membaca huruf arab, ilmu agama, bahasa Jawi/Melayu, akhlak dan sejarah Islam.

  • Rangkang;

Diselengarakan disetiap mukim, merupakan masjid sebagai tempat berbagai aktifitas ummat termasuk pendidikan. Rangkang adalah setingkat Madrasah Tsanawiyah. Materi yang diajarkan; bahasa arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, (hisab), akhlak, fiqh, dan lain-lain.

  • Dayah;

Terdapat disetiap daerah ulebalang dan terkadang berpusat di masjid, dapat disamakan dengan Madrasah Aliyah sekarang, Materi yang diajarkan; fiqh (hukum islam), bahasa arab, tauhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah/tata negara, ilmu pasti dan faraid.

  • Dayah Teuku Cik;

Dapat disamakan dengan perguruan tinggi atau akademi, diajarkan fiqh, tafsir, hadits, tauhid (ilmu kalam), akhlak/tasawuf, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa di Kerajaan Aceh Darussalam ilmu pengetahuan benar-benar berkembang dengan pesat dan mampu melahirkan para ulama’ dan ahli ilmu pengetahuan, seperti: Hamzah Fansuri, Syekh Syamsudin Sumatrani, Syekh Nuruddin Ar Raniry dan Syekh Abdur Rauf Tengku Syiah Kuala, yang merupakan nama-nama yang tidak asing lagi sampai sekarang ini. Bahkan diantaranya ada yang diabadikan menjadi nama perguruan tinggi terkenal di Aceh yaitu IAIN Ar Raniry dan Universitas Syiah Kuala.

 

  • Ø Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Demak

Tentang sistem pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh, yaitu dengan mendirikan masjid di tempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah, disana diajarkan pendidikan agama dibawah pimpinan seorang Badal untuk menjadi seorang guru, yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam.

Wali suatu daerah diberri gelaran resmi, yaitu gelar  sunan dengan ditambah nama daerahnya, sehingga tersebutlah nama-nama seperti: Sunan Gunung Jati, Sunan Geseng, Kiai Ageng Tarub, Kiai Ageng Sela dan lain-lain.

Memang antara Kerajaan Deamak dengan wali-wali yang Sembilan atau Walisonggo terjalin hubungan yang bersifat khusus, yang boleh dikatakan semacam hubungan timbal-balik, dimana sangatlah besar peranan para walisonggo di bidang dakwah Islam, dan juga Raden Fatah sendiri menjadi raja adalah atas rasa keputusan para wali dan dalam hal ini para wali tersebut juga sebagai penasehat dan pembantu raja.

Dengan kondisi yang demikian, maka yang menjadi sasaran pendidikan dan dakwah Islam meliputi kalangan pemerintah dan rakyat umum.Adanya kebijaksanaan wali-wali menyiarkan agama dan memasukkan anasir-anasir pendidikan dan pengajaran Islam dalam segala cabang kebudayaan nasional Indonesia, sangat mengembirakan, sehingga agama Islam dapat tersebar di seluruh kepulauan Indonesia.

  • Ø Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam Mataram

Pada zaman kerajaan Mataram, pendidikan sudah mendapat perhatian sedemikian rupa, seolah-olah tertanam semacam kesadaran akan pendidikan pada masyarakat kala itu. Meskipun tidak ada semacam undang-undang wajib belajar, tapi anak-anak usia sekolah tampaknya harus belajar pada tempat-tempat pengajian di desanya atas kehendak orang tuanya sendiri.

Ketika itu hampir disetiap desa diadakan tempat pengajian alquran, yang diajarkan huruf hijaiyah, membaca alquran, barzanji,, pokok dan dasar-dasar ilmu agama Islam dan sebagainya. Adapun cara mengajarkannya adalah dengan cara hafalan semata-mata. Di setiap tempat pengajian dipimpin oleh guru yang bergelar modin.

Selain pelajaran alquran, juga ada tempat pengajian kitab, bagi murid-murid yyang  telah khatam mengaji alquran. Tempat pengajianya disebut pesantren. Para santri harus tinggal di asrama yang  dinamai pondok, di dekat pesantren tersebut.

Adapun cara yang dipergunakan untuk mengajar kitab ialah dengan sistem sorogan, seorang demi seorang bagi murid-murid permulaan, dan dengancara bendungan (halaqah) bagi pelajar-pelajar yang sudah lamadan mendalam keilmuanya.

Sementara itu pada beberapa daerah Kabupaten diadakan pesantren besar, yang dilengkapi dengan pondoknya, untuk kelanjutan bagi santri yang telah menyelesaikan pendidikan di pesantren-pesantren desa. Pesantren ini adalah sebagai lembaga pendidikan tingkat tinggi.

Kitab-kitab yang diajarkan pada pesantren besar itu ialah kitab-kitab besar dalam bahasa Arab, lalu diterjemahkan kata demi kata kedalam bahasa daerah dan dilakukan secara halaqah. Bermacam-macam ilmu agama telah diajarkan disini, seperti: fiqh, tafsir, hadits, ilmu kalam, tasawuf dan sebagainya. Selain pesantren besar, juga diselenggarakan semacam pesantren takhassus, yang mengajarkan satu cabang ilmu agama dengan cara mendalam atau spesialisasi.

  • Sistem Pendidikan Pada Masa Kerajaan Islam di Banjarmasin

Sistem pengajian kitab di pesantren Banjarmasin, tidak berbeda dengan sistem pengajian kitab di pondok pesantren Jawa ataupun Sumatra, yaitu dengan mempergunakan sistem halaqah, menerjemahkan kitab-kitab yang dipakai ke dalam bahasa daerah (Banjar), sedang para santrinya menyimaknya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia; Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Jakarta, 2001